Jumat, 25 November 2011

First Post

Dear My God.. Tuhan Yesus..

Tuhan Yesus,, aku yakin Kau tau perasaanku saat ini. Menjalani hidup ternyata tidak mudah. Ada hal-hal yang harus saya pahami, pelajari, antisipasi dan koreksi.

Sejak seseorang lahir ke dunia, saya setuju dengan Firman Tuhan yang berkata, bahwa orang tersebut sudah berdosa, bahkan dalam kandungan ibu pun sudah berdosa. Tapi, saya punya pemahaman sendiri mengenai hal yang satu ini, seseorang lahir kedunia dengan dosa karena sejak manusia pertama yaitu Adam dan Hawa mendukakan hati Tuhan, maka kita semua keturunannya juga ikut berdosa, termasuk sejak dalam kandungan. Hal yang saya maksud yaitu kita lahir sudah berdosa namun kita masih kosong. Yang saya ingin jelaskan, kosong disini adalah belum ada pengetahuan, belum ada pengalaman dan belum ada kemampuan.

Menyambung hal diatas, untuk itulah ada mama.. ada  bapa.. mereka yang Tuhan Yesus berikan tanggung jawab untuk mengisi ke-kosong-an itu dengan hal-hal baik dan seturut Firman Tuhan. Saya sangat yakin, sejahat apapun orang tua, hati nurani mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk setiap anaknya.

Bagaimana dengan bapa dan mama saya ?

Saya mengucap syukur setinggi-tingginya karena Tuhan Yesus memberikan orang tua yang sangat mengasihi saya.

Tuhan Yesus berikan seorang bapa yang sangat mencintai saya, apapun bapa lakukan untuk memastikan saya terjaga aman. Apapun, mulai dari memastikan saya harus sarapan sebelum berangkat kemanapun, menentukan jam malam saya jika tidak kuliah (karena saya kuliah malam selesai jam 22.00) dan jika bapa belum mendapati saya dirumah saat jam malam yang bapa berikan kepada saya lewat 1 menit saja, bapa duduk didepan rumah berjaga dan selalu sangat marah ketika saya akhirnya tiba dirumah. Pernah memang saya merasa kalau sikap bapa yang seperti itu terlalu berlebihan, namun saat saya mendalaminya, saya menangis karena merasa sangat bersalah membuat bapa berada dalam posisi yang paling tidak diinginkannya. Bapa tidak ingin menunggu diluar rumah, karena itu membuatnya sangat tersiksa, khawatir terjadi apa-apa dengan saya. Bapa hanya ingin setiap anaknya termasuk saya boru pertamanya benar-benar dalam kondisi aman. Saya bayangkan seekor singa saja yang adalah hewan punya kewajiban yang lahir dengan sendirinya untuk melindungi anaknya. Apalagi bapa yang Tuhan Yesus berikan perasaan dan akal budi. Baiklah, kita lanjutkan, bapa termasuk pria yang tidak ingin terlihat seram atau diktator, sebisa mungkin bapa memantau apapun yang saya alami, seperti ketika saya terbuka bahwa saya menjalani hubungan (baca : pacaran) yang pertama kalinya, mungkin bapa tau akan tidak baik jika terlalu dikekang, karena seingat saya bapa tekankan “tidak boleh pacaran klo sekolah belum selesai” dan saya berfikir sekarang saya sudah bekerja dan kuliah, jadi tidak ada salahnya saya mulai merasakan hal ini. Dengan wajah yang biasa saja bapa mengatakan ini ketika saya memberitahu mengenai pacar pertama saya “berani pacaran harus berani patah hati ya..”. Waw ! saya tidak mengerti mengapa bapa mengatakan itu kepada saya. Tapi setelah terjadi (dibaca : akhirnya saya putus) baru saya mengerti apa arti perkataan bapa disaat awal saya memulai hubungan ini. Yang saya harapkan tidak seperti yang terjadi, saya berharap 1x menjalani hubungan sampai kepernikahan. Tapi, apa boleh buat, semua saya anggap proses, meskipun jujur sangat berat saat hal itu terjadi tapi itu merupakan pengetahuan tambahan bagi saya.  Bapa sangat percaya kepada saya, maka saya putuskan untuk tidak pernah menyia-nyiakan kepercayaan itu. Selama saya menjalani hubungan (baca : Maret 2010 – Oktober 2010), saya menjalani hubungan kudus, sangking kudusnya sampai berpegangan tangan pun saya tidak mau (baca : kecuali saat menyeberang jalan). Jadi saat akhirnya hubungan kami berakhir, saya tidak merasa rugi apa-apa,, hehehe. Bapa membimbing saya dalam Firman Tuhan, sampai hasilnya saya benar-benar jatuh cinta kepada Pribadi yang bapa kenalkan kepada saya, ya, Tuhan Yesus. Dulu, ketika saya SD, keluarga saya bergereja di gereja kecil didaerah Halim mulai ibadah jam 10 pagi. Namun di gereja itu belum ada sekolah minggu. Dan ketika itu saya tau dari teman sekolah saya kalau Gereja HKBP Jatiwaringin ada sekolah minggu masuk jam 7 pagi dan nanti jam 10 pagi saya tetap ikut dengan keluarga saya beribadah di gereja halim, ya…. namanya orang sedang jatuh cinta (baca : dengan Tuhan Yesus), akhirnya saya ikut sekolah minggu di HKBP Jatiwaringin. Perjalanan yang cukup jauh bagi saya yang berjalan kaki, tapi itu tidak pernah menjadi alasan saya, malah saya berangkat dari rumah jam 6 pagi supaya bisa sampai di sekolah minggu jam 7 tepat. Dan sampai akhirnya sekarang, saya adalah seorang guru sekolah minggu J. Sukacita rasanya bisa menjadi seperti saat ini, dan saya yakin semuanya karena Tuhan Yesus berikan saya bapa yang luar biasa, tanpa bapa yang seperti ini saya tidak mungkin kenal Tuhan Yesus, mungkin hanya sekedar tau tapi tidak sampai jatuh cinta. Baiklah, pokoknya saya selalu bersyukur kepada Tuhan Yesus atas pemberiannya kepada saya, yaitu seorang bapa yang adalah gembala sidang di GPDI Rehobot Syeba Jakarta, Pdt.Marihot Markus Saragi Napitu, BE.

Tuhan Yesus tidak hanya memberikan saya seorang bapa, tapi Tuhan Yesus juga berikan saya seorang mama.Melalui sosok mama, saya belajar menjadi wanita kuat, bagi kebanyakan orang pasti menganggap bahwa wanita = mudah menangis, mudah menangis = lemah, disini saya mau koreksi, wanita = dianugerahi perasaan yang lebih sensitive = tegar = kuat. Gitu loh,, hehehee.. Mama buat saya luar biasa, yang mengajari saya cara hitung menghitung, mengeja tulisan sampai akhirnya bisa membaca. Sekedar informasi saja,, mama ini tadinya ambil SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan sudah pernah menjadi Guru SD, namun karena Tuhan Yesus mempertemukan mama dengan bapa, jadi mama memutuskan untuk tidak menjadi guru bagi murid-muridnya lagi tapi menjadi guru untuk anak-anaknya (baca : saya dan kedua adik saya). Melihat mama selalu berhasil membuat saya menangis sukacita, karena saya punya mama yang hebat. Mama juga yang mengajari saya berdoa sebelum makan, mengingatkan saya membuat PR, menyiapkan dan memastikan seragam sekolah serta sarapan saya sudah siap untuk saya. Kalau sebagian orang merasakan bahwa pembantulah yang melakukan itu semua, jangan khawatir karena seorang mama yang memberi tahu pembantu untuk menyiapkan segala sesuatu bagi anaknya. Untuk itu saya mengucap syukur karena saya lebih berbahagia dari orang lain, karena mama secara special melakukan semuanya untuk kami (baca : bapa, saya dan kedua adik saya). Langsung dari hati mama lagi . Gimanapun saya tidak bisa bohong, kalau mama yang mengajari saya mencuci piring, menyetrika pakaian, menyapu, mengepel dan memasak. Kenapa ya mesti diajarin semuanya ? ya… karena saya juga seorang wanita, yang kelak akan melakukan semua itu kepada keluarga saya nantinya. Mama ajarin itu semua karena mama tidak mau saya menjadi wanita yang tidak bias berbuat apa-apa untuk keluarga saya nantinya. Itulah mengapa saya bilang mama saya ini luar biasa. Dan hal paling membuat saya bersedih ketika mama harus dioperasi pengangkatan miom dirahim mama. Saya tidak sanggup melihat mama kesakitan, sepertinya saya ingin bilang ke Tuhan Yesus supaya jangan mama yang mengalami ini semua, biarkan saya saja, karena saya sangat sayang mama, bodoh ya saya diberikan sehat malah minta sakit, maaf ya Tuhan Yesus. Jadi saat itu mama dirawat di RS.Budi Asih, sebisa mungkin setiap hari saya menjenguk mama, bergantian dengan bapa. Saya kerja dan kuliah sampai jam 10 malam, kemudian saya ke rumah sakit untuk gentian dengan bapa, supaya bapa pulang istirahat dirumah dan paginya bapa mengantarkan kedua adik saya ke sekolah, dan setelah itu bapa ke rumah sakit untuk bergantian dengan saya, karena saya ingin berangkat kerja. Manis ya.. saya perhatikan cinta antara Bapa dan Mama (baca : doa saya supaya punya suami yang takut Tuhan seperti bapa). Dan sekarang mama sudah sehat tapi masih dalam pemulihan. Saya mengucap syukur setinggi-tingginya karena Tuhan Yesus berikan saya mama yang adalah penopang bapa dan ibu Gembala, Pdp.Linda Sianipar.

 Terimakasih Tuhan Yesus, karena memberikan saya bapa dan mama.

Terimakasih karena tanpa kedua orang yang Kau berikan, saya tidak mungkin mampu menjalani hidup ini.

Benita Naomi Martgiovani Saragi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar