Dear My God.. Tuhan Yesus..
Tuhan Yesus,, aku yakin Kau tau
perasaanku saat ini. Menjalani hidup
ternyata tidak mudah. Ada
hal-hal yang harus saya pahami, pelajari, antisipasi dan koreksi.
Sejak seseorang lahir ke dunia,
saya setuju dengan Firman Tuhan yang berkata, bahwa orang tersebut sudah
berdosa, bahkan dalam kandungan ibu pun sudah berdosa. Tapi, saya punya
pemahaman sendiri mengenai hal yang satu
ini, seseorang lahir kedunia dengan dosa karena sejak manusia pertama yaitu
Adam dan Hawa mendukakan hati Tuhan, maka kita semua keturunannya juga ikut
berdosa, termasuk sejak dalam kandungan. Hal
yang saya maksud yaitu kita lahir sudah berdosa namun kita masih kosong. Yang saya ingin jelaskan, kosong disini adalah belum ada
pengetahuan, belum ada pengalaman dan belum ada kemampuan.
Menyambung hal diatas, untuk
itulah ada mama.. ada bapa.. mereka yang
Tuhan Yesus berikan tanggung jawab untuk mengisi ke-kosong-an itu dengan
hal-hal baik dan seturut Firman Tuhan. Saya sangat yakin, sejahat apapun orang
tua, hati nurani mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk setiap anaknya.
Bagaimana dengan bapa dan mama
saya ?
Saya mengucap syukur
setinggi-tingginya karena Tuhan Yesus memberikan orang tua yang sangat
mengasihi saya.
Tuhan Yesus berikan seorang bapa yang sangat mencintai
saya, apapun bapa lakukan untuk memastikan saya terjaga aman. Apapun, mulai
dari memastikan saya harus sarapan
sebelum berangkat kemanapun, menentukan jam malam saya jika tidak kuliah
(karena saya kuliah malam selesai jam 22.00) dan jika bapa belum mendapati saya
dirumah saat jam malam yang bapa berikan kepada saya lewat 1 menit saja, bapa
duduk didepan rumah berjaga dan selalu sangat marah ketika saya akhirnya tiba
dirumah. Pernah memang saya merasa kalau sikap bapa yang seperti itu terlalu
berlebihan, namun saat saya mendalaminya, saya menangis karena merasa sangat
bersalah membuat bapa berada dalam posisi yang paling tidak diinginkannya. Bapa
tidak ingin menunggu diluar rumah, karena itu membuatnya sangat tersiksa,
khawatir terjadi apa-apa dengan saya. Bapa hanya ingin setiap anaknya termasuk
saya boru pertamanya benar-benar dalam kondisi aman. Saya bayangkan seekor
singa saja yang adalah hewan punya kewajiban yang lahir dengan sendirinya untuk
melindungi anaknya. Apalagi bapa yang Tuhan Yesus berikan perasaan dan akal
budi. Baiklah, kita lanjutkan, bapa termasuk pria yang tidak ingin terlihat
seram atau diktator, sebisa mungkin bapa memantau apapun yang saya alami,
seperti ketika saya terbuka bahwa saya menjalani hubungan (baca : pacaran) yang
pertama kalinya, mungkin bapa tau akan tidak baik jika terlalu dikekang, karena
seingat saya bapa tekankan “tidak boleh pacaran klo sekolah belum selesai” dan
saya berfikir sekarang saya sudah bekerja dan kuliah, jadi tidak ada salahnya
saya mulai merasakan hal ini. Dengan wajah yang biasa saja bapa mengatakan ini
ketika saya memberitahu mengenai pacar pertama saya “berani pacaran harus
berani patah hati ya..”. Waw ! saya tidak mengerti mengapa bapa mengatakan itu
kepada saya. Tapi setelah terjadi (dibaca : akhirnya saya putus) baru saya
mengerti apa arti perkataan bapa disaat awal saya memulai hubungan ini. Yang
saya harapkan tidak seperti yang terjadi, saya berharap 1x menjalani hubungan
sampai kepernikahan. Tapi, apa boleh buat, semua saya anggap proses, meskipun jujur
sangat berat saat hal itu terjadi tapi itu merupakan pengetahuan tambahan bagi
saya. Bapa sangat percaya kepada saya,
maka saya putuskan untuk tidak pernah menyia-nyiakan kepercayaan itu. Selama
saya menjalani hubungan (baca : Maret 2010 – Oktober 2010), saya menjalani
hubungan kudus, sangking kudusnya sampai berpegangan tangan pun saya tidak mau
(baca : kecuali saat menyeberang jalan). Jadi saat akhirnya hubungan kami
berakhir, saya tidak merasa rugi apa-apa,, hehehe. Bapa membimbing saya dalam
Firman Tuhan, sampai hasilnya saya benar-benar jatuh cinta kepada Pribadi yang
bapa kenalkan kepada saya, ya, Tuhan Yesus. Dulu, ketika saya SD, keluarga saya
bergereja di gereja kecil didaerah Halim mulai ibadah jam 10 pagi. Namun di gereja
itu belum ada sekolah minggu. Dan ketika itu saya tau dari teman sekolah saya
kalau Gereja HKBP Jatiwaringin ada sekolah minggu masuk jam 7 pagi dan nanti
jam 10 pagi saya tetap ikut dengan keluarga saya beribadah di gereja halim, ya….
namanya orang sedang jatuh cinta (baca : dengan Tuhan Yesus), akhirnya saya
ikut sekolah minggu di HKBP Jatiwaringin. Perjalanan yang cukup jauh bagi saya
yang berjalan kaki, tapi itu tidak pernah menjadi alasan saya, malah saya
berangkat dari rumah jam 6 pagi supaya bisa sampai di sekolah minggu jam 7
tepat. Dan sampai akhirnya sekarang, saya adalah seorang guru sekolah minggu J.
Sukacita rasanya bisa menjadi seperti saat ini, dan saya yakin semuanya karena
Tuhan Yesus berikan saya bapa yang luar biasa, tanpa bapa yang seperti ini saya
tidak mungkin kenal Tuhan Yesus, mungkin hanya sekedar tau tapi tidak sampai
jatuh cinta. Baiklah, pokoknya saya selalu bersyukur kepada Tuhan Yesus atas
pemberiannya kepada saya, yaitu seorang bapa yang adalah gembala sidang di GPDI
Rehobot Syeba Jakarta ,
Pdt.Marihot Markus Saragi Napitu, BE.
Tuhan Yesus tidak hanya
memberikan saya seorang bapa, tapi Tuhan Yesus juga berikan saya seorang
mama.Melalui sosok mama, saya belajar menjadi wanita kuat, bagi kebanyakan
orang pasti menganggap bahwa wanita = mudah menangis, mudah menangis = lemah,
disini saya mau koreksi, wanita = dianugerahi perasaan yang lebih sensitive =
tegar = kuat. Gitu loh,, hehehee.. Mama buat saya luar biasa, yang mengajari
saya cara hitung menghitung, mengeja tulisan sampai akhirnya bisa membaca.
Sekedar informasi saja,, mama ini tadinya ambil SPG (Sekolah Pendidikan Guru)
dan sudah pernah menjadi Guru SD, namun karena Tuhan Yesus mempertemukan mama
dengan bapa, jadi mama memutuskan untuk tidak menjadi guru bagi murid-muridnya
lagi tapi menjadi guru untuk anak-anaknya (baca : saya dan kedua adik saya).
Melihat mama selalu berhasil membuat saya menangis sukacita, karena saya punya
mama yang hebat. Mama juga yang mengajari saya berdoa sebelum makan,
mengingatkan saya membuat PR, menyiapkan dan memastikan seragam sekolah serta
sarapan saya sudah siap untuk saya. Kalau sebagian orang merasakan bahwa
pembantulah yang melakukan itu semua, jangan khawatir karena seorang mama yang
memberi tahu pembantu untuk menyiapkan segala sesuatu bagi anaknya. Untuk itu
saya mengucap syukur karena saya lebih berbahagia dari orang lain, karena mama
secara special melakukan semuanya untuk kami (baca : bapa, saya dan kedua adik
saya). Langsung dari hati mama lagi . Gimanapun saya tidak bisa bohong, kalau
mama yang mengajari saya mencuci piring, menyetrika pakaian, menyapu, mengepel
dan memasak. Kenapa ya mesti diajarin semuanya ? ya… karena saya juga seorang
wanita, yang kelak akan melakukan semua itu kepada keluarga saya nantinya. Mama
ajarin itu semua karena mama tidak mau saya menjadi wanita yang tidak bias
berbuat apa-apa untuk keluarga saya nantinya. Itulah mengapa saya bilang mama
saya ini luar biasa. Dan hal paling membuat saya bersedih ketika mama harus
dioperasi pengangkatan miom dirahim mama. Saya tidak sanggup melihat mama
kesakitan, sepertinya saya ingin bilang ke Tuhan Yesus supaya jangan mama yang
mengalami ini semua, biarkan saya saja, karena saya sangat sayang mama, bodoh
ya saya diberikan sehat malah minta sakit, maaf ya Tuhan Yesus. Jadi saat itu
mama dirawat di RS.Budi Asih, sebisa mungkin setiap hari saya menjenguk mama,
bergantian dengan bapa. Saya kerja dan kuliah sampai jam 10 malam, kemudian
saya ke rumah sakit untuk gentian dengan bapa, supaya bapa pulang istirahat
dirumah dan paginya bapa mengantarkan kedua adik saya ke sekolah, dan setelah
itu bapa ke rumah sakit untuk bergantian dengan saya, karena saya ingin
berangkat kerja. Manis ya.. saya perhatikan cinta antara Bapa dan Mama (baca :
doa saya supaya punya suami yang takut Tuhan seperti bapa). Dan sekarang mama
sudah sehat tapi masih dalam pemulihan. Saya mengucap syukur setinggi-tingginya
karena Tuhan Yesus berikan saya mama yang adalah penopang bapa dan ibu Gembala,
Pdp.Linda Sianipar.
Terimakasih Tuhan Yesus, karena memberikan
saya bapa dan mama.
Terimakasih karena tanpa kedua
orang yang Kau berikan, saya tidak mungkin mampu menjalani hidup ini.
Benita Naomi Martgiovani Saragi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar